Halaman

Kamis, 27 Agustus 2009

apakah ini ?

apa komentarmu tentang video ini ?



a. lugu
b. polos
c. gilaaa
d. bodoh
e. agak bodoh
f. lumayan bodoh
g. sangat bodoh

Selasa, 25 Agustus 2009

berjalan sendiri

aku berjalan di trotoar , jalan rayanya sepi , tak ada yg lalu lalang satupun .
hanya lampu-lampu jalan yg menerangi jalanku. Aku kesepian mencari jalan pulang sendiri. Ke mana sahabat yang menemaniku selama ini ?

Sedih memang, tapi itu takdir hidupku. Selalu ditinggal sahabat, entah berpisah jalan, ataupun dia pergi ~
:')

Jumat, 21 Agustus 2009

sahabat = omong kosong

Bagaimana rasanya kamu punya sahabat yang baik, setia, asik, unforgettable lah. Menyenangkan bukan? Kita bisa berbagi cerita, sharing, dan saling mengisi. Bahagiamu, bahagiaku. Kata-kata itu yang sering diucapkan seorang sahabat.

Aku pun pernah, bahkan masih punya beberapa orang yang berarti. Dulu kami menyebut diri dan manjalin ikatan kasih sayang sebagai SAHABAT. Suka duka, masalah, rintangan yang akan memisahkan kita bisa dilalui. Masalah pasti ada, bumbu dalam persahabatan agar lebih terasa.

Perlahan tapi pasti, perpecahan terjadi. Mereka ga bilang langsung, tapi melihat status mereka di facebook, aku uda bisa ngambil intinya. Entah jalan pikiran kita berbeda, mungkin keegoisan satu sama lain masih tinggi.

Makasih teman, aku ga menyesal pernah berSAHABAT dengan kalian. Walaupun akhirnya kita terpisah. Aku hanya menyesal dengan sikap seseorang dari kita, yang menyembunyikan alasan benci padaku. Jangan egois. Semoga kalian bisa mendapat sahabat terbaik. Jagalah, jangan kau sia-siakan persahabatan itu.

Sabtu, 15 Agustus 2009

siapakah dia ?

mentari sudah memancarkan sinarnya. hangat dan menyenangkan. saat itu pula aku berangkat ke sekolah pukul 6 tepat. pak kusno, supir yang setia mengantar kemanapun aku pergi. sampai ke ujung kulon pun mungkin dia akan siap mengantarku. seperti biasa aku duduk di samping kemudi. lebih asik melihat lalu lalang menurutku sambil makan roti. aku belum sempat sarapan di rumah, jadi aku makan di mobil.


macet sedang tak terjadi pagi ini. si komo rupanya sudah naik motor rupanya.


jarak dari sekolahku tak seberapa jauh dari rumah. mugkin 5 kilometer. tapi bunda selalu menyuruhku untuk naik mobil. padahal aku lebih suka naik motor sendiri. yah, mungkin karena aku anak gadis satu-satunya di keluarga ini. aku punya 2 kakak laki-laki. keseharian mereka hanya bermain dan bermain. hufff ..

mobil yang kunaiki sekarang sudah hampir sampai di sekolah.

ciiitttttttt ! mobilku mengerem mendadak .


“ada apa pak?” tanyaku pada pak kusno, yang terengah-engah sekarang. mungkin kaget. dan aku pun juga kaget. acara makan rotiku jadi terputus.


“ada anak yang ngerem mendadak. saya juga ga tau mbak.” jawab Pak Kusno.


yah , baiklah, mungkin itu salah satu alasan mengapa bunda tak mengijinkanku bawa motor sendiri.

terlalu berbahaya !

mobil berjalan kembali. kutoleh anak yang kata pak kusno ngerem mendadak itu sambil meneruskan memakan rotiku. dia biasa saja. dia melihatku dengan tatapan innocent dan tanpa dosa. dan saat itu juga ada rasa aneh di dadaku. entah apa itu, aku tak bisa menjelaskan.

aku berjalan menuju kelasku setelah turun dari mobil. di koridor aku bertemu dengan anak rem itu, panggil saja dia anak rem, lebih sungkat bukan? dia pasang gaya sok cool. hiiiaks ! bikin mual aja ! udah salah, ga minta maaf, innocent lagi. hoek ! siapa sih dia ??

***


keadaan pagi yang sama, dan dengan orang yang sama pula aku berangkat ke sekolah. semoga ga ada lagi anak rem yang lain. tak jauh dari rumah, selalu aku melewati jalan perempatan. dan di situ pula, untuk pertama kali ... anak yang ngerem ndadak kemaren. what ? siapa sih dia ? seumur-umur aku tinggal di sini belum pernah liat dia.

***

“assalamualaikum ..” siapa yang mengucapkan salam itu? cepat-cepat kubuka pintu dan membalas salam itu, “waalaikum salam.”

di luar berdiri seorang cowok, tinggi dan proporsional. sepertinya aku mengenal dia. tapi lupa-lupa ingat !

“cari siapa ya?” tanyaku lirih.


“ini bener rumahnya Franda?” tanyanya. siapa dia kok berani menyebut namaku ?


“iya, saya sendiri. ada perlu apa? kayaknya aku ...” belum selesai aku mengucapkan kata-kata, ingatanku kembali normal. dia kan anak rem itu! ada urusan apa dia?


“aku Dhenis.” ucapnya seraya mengulurkan tangannya. kujabat saja tangannya.


“oh, masuk dulu deh.” ucapku mempersilakan dia masuk ke ruang tamu. senyumnya mengalihkan duniaku! senyuman yang mengejutkan! Tuhan, saya bahagia melihat makhluk ini lagi walau agak dongkol.


“sorry ya tempo hari aku ngerem mendadak.” ucapnya memulai pembicaraan.


“oh, gapapa. aku juga ga lecet kok.” seruku.


“oh iya, kamu kelas brpa ? sekolah dia SMANGILA juga kan ?” tanyanya.


“iya. kelas 2 sos 3. kamu ?”


“aku kelas 3 bahasa. kok ga pernah tau ya ?”


“hahaha , iya. kelasnya kan jauh. kutub utara dan selatan.” guyonku. dia pun tertawa. ya tuhan ! aku ga tahan liat senyumnya yang manis ini ...


“tau rumahku dari mana ?” tanyaku.


“sering liat aja. biasanya kamu keluar aku ikutin. rumahku ga jauh dari sini lho.” jawabnya.


“wah, kamu ngikutin aku ya ? bahaya !” guyonku lagi .. dan kamipun tertawa.

***


tawa kami selalu membahana dan tak kan pernah hilang. tragedi itu membuatku dan Dhenis menjadi sahabat dekat. dan aku berharap kedekatan ini tak akan pernah usai seiring dengan berjalannya waktu. dan aku juga berharap rasa ini akan tetap tersimpan di lubuk hatiku yang terdalam. meski dia takkan pernah tau apa yang selalu kupikirkan. Dhenis, nama itu akan slalu terukir di hatiku ...